By A Web Design Company


Iman Kepada Alloh Melahirkan Cinta Bertemu Dengan-Nya

Print
Created on Saturday, 12 May 2012

Oleh: Ust. Khairul Anwar, M.Ag., Al-Hafidz

فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاء رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحاً وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَداً

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. (Al-Kahf : 110).

Ibnu Katsir berkata: siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya untuk mendapati pahala atas segala amal soleh yang telah dilakukan di dunia, wajib baginya beramal sesuai dengan apa yang dijelaskan al-Quran dan Sunnah dan tidak menyekutukan Tuhannya dengan apa dan siapa pun dalam amalnya itu. Arti dari يرجو adalah mengharap, dan kata ini dalam bahasa Arab mengandung unsur takut kepada Alloh. Sebab jika tidak ada rasa takutnya berarti sesumbar. Contohnya begini: Anda ikut tes masuk perguruan tinggi negeri yang favorit, sebelum itu Anda telah belajar mati-matian dan sudah melahap hampir semua soal ujian masuk tahun-tahun sebelumnya. Lalu tibalah saat melihat pengumuman kelulusan yang akan ditempel pada jam 10 siang. Pada pagi hari jam 7 ketika Anda hendak berangkat, teman Anda bertanya: “Apakah menurutmu kamu lulus?”. Maka Anda menjawab: “Saya berharap demikian, insya Alloh”. Ini artinya Anda memiliki rasa takut tidak lulus.

Begitulah Alloh memakai kalimat ini: “Siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya”, yaitu agar setiap diri selalu beramal dan beramal untuk kesuksesan pertemuan dengan-Nya nanti di hari Kiamat. Setiap jiwa muslim tentu tidak mau bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan penuh kezaliman dan dosa. Sebab kezaliman yang ia perbuat kepada sesama manusia itu sangat berat urusannya. Rasulullah –sholawat dan salam Alloh ke atasnya- bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ حُبِسُوا بِقَنْطَرَةٍ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ فَيَتَقَاصُّونَ مَظَالِمَ كَانَتْ بَيْنَهُمْ فِي الدُّنْيَا حَتَّى إِذَا نُقُّوا وَهُذِّبُوا أُذِنَ لَهُمْ بِدُخُولِ الْجَنَّةِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَأَحَدُهُمْ بِمَسْكَنِهِ فِي الْجَنَّةِ أَدَلُّ بِمَنْزِلِهِ كَانَ فِي الدُّنْيَا

dari Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Jika orang-orang beriman telah melewati neraka, mereka akan ditahan di suatu jembatan yang disebut Qanthorah yang terletak antara surga dan neraka, lalu disana mereka akan diqishas (dibalas) atas kezhaliman yang terjadi sesama mereka di dunia, sehingga apabila telah tidak ada lagi dosa barulah mereka diizinkan untuk memasuki surga. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, sungguh seorang dari mereka berada di tempat tinggalnya di surga lebih ia kenal dari pada rumah mereka di dunia. (H.R. Al-Bukhori).

Begitu juga dosa-dosa yang ia perbuat tanpa sempat bertaubat darinya. Dalam sebuah haditsnya yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah bersabda:

قَالَ عَبْدُ اللَّهِ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الذَّنْبِ أَكْبَرُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَدْعُوَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ تَصْدِيقَهَا )وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا(

Abdullah berkata, Seorang laki-laki berkata, Wahai Rasulullah, dosa apa yang paling besar di sisi Allah. Beliau menjawab: Kamu mendakwahkan tandingan untuk Allah padahal dia menciptakanmu. Dia bertanya, Kemudian apa? Beliau menjawab: Kamu membunuh anakmu karena khawatir dia makan bersamamu? Dia bertanya, Kemudian apa? Beliau menjawab: Kamu menzinahi istri tetanggamu. Sebagai pembuktian kebenarannya Allah lalu menurunkan ayat: '(Dan juga mereka yang tidak menyembah sesuatu yang lain bersama-sama Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan cara yang dibenarkan oleh syari'at dan tidak berzina. Barangsiapa yang melakukan perbuatan tersebut akan mendapat pembalasan dosanya)' (Qs. Al-Furqan: 68).

Kembali ke ayat 110 dari surat al-Kahf di atas, Ibnu Taimiyyah menegaskan bahwa hakikat kecintaan itu adalah kesetiaan pada yang dicintai. Ia setia mencintai apa dan siapa yang dicintai kekasihnya itu dan setia membenci apa dan siapa yang dibenci kekasihnya itu. Secara globalnya, Alloh mencintai keimanan dan ketakwaan dan membenci kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan. Kata-kata Ibnu Taimiyyah ini penting direnungkan. Ia menjelaskan bahwa hakikat cinta kepada Alloh adalah dengan menunjukkan kesetiaan berhamba kepada-Nya baik lahir maupun batin. Ia lalu menjelaskan bahwa ketika Alloh menyuruhnya sholat maka ia dengan setia mendirikannya. Ketika Alloh menyuruhnya zakat maka ia dengan setia membayarnya. Ketika Alloh menyuruhnya berbuat baik kepada ibu bapak maka ia dengan setia melakukannya. Ketika Alloh melarangnya dari mendekati perbuatan zina maka ia dengan setia menahan diri darinya. Ketika Alloh melarangnya dari bermalas-malasan dalam kerja maka ia dengan setia menjauhkan diri darinya dan begitulah seterusnya. Intinya, setiap perintah dan larangan telah Alloh sebutkan dalam al-Quran dan sudah Rasul jelaskan dalam sunnahnya.

Kecintaan Alloh kepada hamba-hamba-Nya tidaklah sama, ia bertingkat-tingkat. Pada tingkat pertama, Alloh mencintai nabi-nabi dan rasul-rasul-Nya. Di antara mereka, Alloh mencintai Ibrohim –‘alaihi as-salam- sampai tingkatan خلة , sebuah posisi kecintaan di atas kecintaan, mungkin padanannya dalam bahasa Indonesia adalah ‘kekasih’. Setelah tingkatan para rasul, datanglah tingkatan orang-orang yang beriman kepada Alloh. Mereka ini juga bertingkat-tingkat. Alloh menjelaskan bahwa Dia paling cinta kepada mu’min yang dengan ikhlas mengerjakan semua kewajiban dari-Nya dan menambah dengan berbagai sunnah dan menjauhi semua larangan-Nya dan enggan mengerjakan yang dibenci (makruh) dengan sangat cepat. Ini bisa disimpulkan dalam 2 (dua) hadits berikut, yang pertama:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ

dari Abu Hurairah menuturkan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-Ku, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya." (H.R. Al-Bukhori). Dari hadits ini disimpulkan bahwa Alloh mencintai mu’min yang dengan ikhlasnya mengerjakan semua yang diwajibkan kepadanya seperti mendirikan sholat 5 waktu, membayar zakat, berpuasa di bulan Ramadhan, pergi haji, berbakti kepada kedua orang tua, menyambung tali silaturrahmi, berjihad melawan kezaliman dan lain sebagainya. Tidak sampai di situ, setelah sempurna menunaikan semua kewajibannya ia menambahkannya dengan yang sunnah seperti sholat Tahajjud, sholat Witr, sholat sebelum sholat wajib, bersedekah, selalu bermuka manis dan menyapa saudara-saudaranya. Dan begitu jugalah yang ia lakukan terhadap semua yang diharamkan. Dimana ia menjauhi semua yang diharamkan dan bahkan berusaha keras menjauhi juga perkara-perkara yang dibenci Alloh walaupun tidak sampai pada batas haram. Semua itu ia lakukan dengan penuh keikhlasan beribadah hanya untuk-Nya, dan jikalau ia terpeleset, ia segera kembali dan bertaubat kepada Tuhannya Yang Menerima taubat dan Maha Memberi ampunan.

Kemudian hadits yang kedua yang menjelaskan bahwa kesemuanya itu ia lakukan dengan sangat sigap dan cepat serta penuh semangat adalah hadits berikut, renungkanlah maknanya:

عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْوِيهِ عَنْ رَبِّهِ قَالَ إِذَا تَقَرَّبَ الْعَبْدُ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا وَإِذَا تَقَرَّبَ مِنِّي ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ مِنْهُ بَاعًا وَإِذَا أَتَانِي مَشْيًا أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً

dari Anas -radliyallahu'anhu-, dari Nabi -shallallahu 'alaihi wa sallam- yang beliau riwayatkan dari Rabbnya (hadis qudsi), Allah berfirman: "Jika seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekatkan diri kepada-Ku sehasta maka Aku mendekat kepadanya sedepa, dan jika ia mendekatkan diri kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan mendatanginya dengan berlari." (H.R. Al-Bukhori).

MENGAPA KITA MENCINTAI ALLOH?

Seorang mu’min mencintai Alloh karena hatinya yang memang menyuruhnya begitu. Bisa dikatakan bahwa itu sudah dari sananya, sudah fitrah. Tetapi mengatakan bahwa ia mencintai Alloh karena sudah dari sananya bukanlah perkataan yang tepat. Sesungguhnya perkataan yang tepat dan benar adalah dengan mengatakan bahwa ia mencintai Alloh karena Dia mencintainya. Ini bukanlah permainan kata-kata. Memang benar bahwa ia mencintai Alloh karena Dia telah menanamkan rasa cinta itu ke dalam hati sang mu’min. Ketika ditanya, mengapa bayi ketika ketakutan mendengar petir segera menangis, lalu berangsur-angsur diam tatkala ibunya mendekap, menenangkannya dan menyusuinya? Jawabannya adalah sudah fitrah. Ketika ditanya, mengapa anak kecil bawah 5 tahun ketika merasa diganggu ia segera mendekap melindungi dirinya dengan tubuh besar ayahnya? Jawabannya adalah sudah fitrahnya. Dahulu, seorang Arab dusun memiliki banyak sekali unta. Katakanlah sekumpulan unta. Pada suatu bulan, setiap kali ia menggembalakan unta-untanya itu, ia mendapati seekor unta miliknya yang berjalan sendirian menuju sebuah tempat dan di sore harinya unta itu kembali lagi ke dalam kumpulan. Begitu berkali-kali peristiwanya. Sampai akhirnya si Arab dusun mengintai ke mana unta aneh itu menuju. Selidik punya selidik, ternyata unta itu pergi ke tempat dimana dahulu ibunya (induknya) meninggal. Unta itu diam dan mengerum di situ sampai beberapa saat lamanya. Menangislah si Arab dusun tadi demi melihat pemandangan yang mengharukan itu. Jadi dari mana datangnya cinta itu? Kita sebagai orang Islam meyakini bahwa kita mencintai Alloh karena Allohnya yang mencintai kita duluan. Inilah faktor terkuat mengapa kita harus mencintai Alloh.

Yang kedua, seorang mu’min mencintai Alloh karena Dia adalah sumber pemberi segala ni’mat yang tiada henti-hentinya. Dalam surat Luqman, Dia menjelaskan:

أَلَمْ تَرَوْا أَنَّ اللَّهَ سَخَّرَ لَكُم مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَأَسْبَغَ عَلَيْكُمْ نِعَمَهُ ظَاهِرَةً وَبَاطِنَةً

Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu ni'mat-Nya lahir dan batin. (Luqman : 20). Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ni’mat lahir dan batin yang Alloh curahkan misalnya: menurunkan kitab-kitab (yang terbesar adalah al-Quran), mengutus rasul-rasul (yang terbesar adalah Muhammad –shollallahu ‘alaihi wa sallam-, menjelaskan kebenaran dan menerangkan yang batil itu batil. Sementara itu Sayyid Quthb mengatakan bahwa ciptaan Alloh berupa matahari dan bulan tidak pernah berkhianat dalam peredarannya. Matahari dan bulan tidak pernah bosan apalagi berhenti dalam menjadi sebab pergantian siang dan malam. Sementara itu siang amat diperlukan oleh manusia untuk bekerja dan beraktivitas dan malam amat diperlukan oleh manusia untuk beristirahat dan tidur. Jika manusia memberi, ia hanya memberi beberapa saat saja. Namun jika Alloh memberi, Dia memberi terus menerus tiada kata hentinya. Apa yang dijelaskan oleh Ibnu Katsir barulah mewakili beberapa saja dari ni’mat-ni’mat Alloh, namun itu semua adalah yang terbesar. Ni’mat-ni’mat Alloh yang lainnya adalah ni’mat diciptakannya dirinya, ni’mat disempurnakan penciptaannya itu tanpa cacat, ni’mat penyediaan berbagai macam fasilitas kehidupan sehingga dirinya dapat hidup dengan nyaman, bahkan sangat berkecukupan. Seorang mu’min sepenuhnya percaya bahwa semua ni’mat yang ia rasakan benar-benar Alloh kirimkan kepadanya. Jika ia melamar pekerjaan ke sebuah perusahaan yang sangat kaya dan mampu memberinya gaji 20 juta perbulan. Banyak sekali surat lamaran kerja yang masuk ke bagian HRD perusahaan tersebut. Mungkin 100.000 pelamar. Semua pelamar adalah para intelektual, sama-sama memenuhi persyaratan sebagai karyawan. Lalu siapakah yang membuat tangan kepala bagian HRD mengambil lamarannya dari sekian banyak para pelamar tadi? Jawabannya adalah Alloh-lah yang telah membuat tangan kepala HRD itu mengambil dan memilih surat lamarannya.

Jika dirinci, ni’mat diciptakannya manusia dari ketiadaan sungguh merupakan ni’mat yang sangat besar. Proses penciptaan manusia yang Alloh lakukan benar-benar proses yang sangat rumit, yang menunjukkan manusia itu agar mengakui kehebatan Tuhannya yang tidak terbatas. Satu saja di antara sekian banyak proses itu sengaja Alloh abaikan maka manusia tidak akan pernah menjadi manusia atau mungkin ia akan keluar ke dunia ini dalam keadaan cacat. Hebatnya lagi, Alloh menciptakan manusia bukan untuk diucapkan kepadanya beribu-ribu ucapan terima kasih. Dalam salah satu hadits Qudsi Alloh berfirman:

عن أبي ذر الغفاري رضي الله عنه، عن النبي صلى الله عليه وسلم فيما يرويه عن ربِه عز وجل أنه قال : يا عبادي إني حرمت الظلم على نفسي، وجعلته بينكم محرما فلا تظالموا، يا عبادي كلكم ضال إلا من هديته، فاستهدوني أهدكم، يا عبادي كلكم جائع إلا من أطعمته، فاستطعموني أُطعمكم، يا عبادي كلكم عار إلا من كسوته، فاستكسوني أكسكم، يا عبادي إنكم تخطئون بالليلِ والنهار، وأنا أغفر الذنوب جميعا، فاستغفروني أغفر لكم، يا عبادي إِنكم لن تبلغوا ضري فتضروني، ولن تبلغوا نفعي فتنفعوني، يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أتقى قلب رجل واحد منكم ما زاد ذلك في ملكي شيئا، يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم كانوا على أفجرِ قلب واحد منكم ما نقص من ملكي شيئا، يا عبادي لو أن أولكم وآخركم وإنسكم وجنكم قاموا في صعيد واحد، فسألوني، فأعطيت كل واحد مسألته ما نقص ذلك مما عندي إلا كما ينقص المخيط إذا أدخل البحر، يا عِبادي إنما هي أعمالكم أحصيها لكم، ثم أوفيكم إياها، فمن وجد خيرا فليحمد الله،  ومن وجد غير ذلك فلا يلومن إلا نفسه ) رواه مسلم(

Dari Abu Dzar al-Ghifari –Alloh meridhainya-, dari Nabi –sholawat dan salam Alloh tercurah ke atasnya-, beliau meriwayatkan dari Tuhannya Yang Maha Perkasa lagi Maha Mulia, Dia berfirman: “wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman terhadap diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu di antara kalian sesuatu yang diharamkan, maka janganlah kalian saling menzalimi satu sama lain. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan sesat kecuali ia yang Aku berikan hidayah (petunjuk) kepadanya, maka mintalah hidayah dari-Ku, pasti Aku akan berikan hidayah kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, kalian semua lapar kecuali ia yang Aku berikan makanan untuknya, maka mintalah makanan dari-Ku, pasti Aku berikan makanan untukmu. Wahai-hamba-hamba-Ku, kalian semua dalam keadaan telanjang kecuali ia yang Aku berikan pakaian kepadanya. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian melakukan banyak kesalahan pada waktu malam dan pada waktu siang dan Aku mengampuni semua dosa tanpa terkecuali, maka mintalah ampunan kepada-Ku, pasti Aku berikan ampunan itu untuk kalian. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak akan pernah mampu membahayakan-Ku sedikit pun dan tidak akan pernah mampu memberikan-Ku manfaat sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya orang pertama dari kalian, orang terakhir dari kalian, bahkan seluruh manusia dan seluruh jin memiliki hati yang paling bertakwa di antara kalian (tiada lain tiada bukan adalah hatinya Rasulullah –shollallahu ‘alaihi wa sallam-), tidaklah kondisi demikian menambahkan kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya orang pertama dari kalian, orang terakhir dari kalian, bahkan seluruh manusia dan seluruh jin memiliki hati yang paling jahat di antara kalian (tiada lain tiada bukan adalah hatinya Iblis –la’natullahi ‘alaihi-), tidaklah kondisi demikian menambahkan kerajaan-Ku sedikit pun. Wahai hamba-hamba-Ku, sekiranya orang pertama dari kalian, orang terakhir dari kalian, bahkan seluruh manusia dan seluruh jin berdiri di tempat yang satu, dimana mereka semua meminta berbagai permintaan kepada-Ku, maka Aku berikan setiap orang permintaannya, tidaklah hal itu dapat mengurangi apa yang ada pada-Ku melainkan sekedar apa yang diambil jarum jika dimasukkan ke dalam samudera. Wahai hamba-hamba-Ku, sesungguhnya itu adalah amal-amal kalian, Aku catat untuk kalian, kemudian Aku berikan balasannya untuk kalian, siapa yang mendapatkan kebaikan maka wajib baginya memuji Alloh. Jika ia mendapatkan selain itu, maka janganlah ia mencela kecuali dirinya sendiri”. (H.R. Muslim).

Inilah hadits yang sangat menggetarkan hati orang yang beriman. Dalam hadits itu, seorang mu’min benar-benar merasa bahwa dirinya bukanlah apa-apa tanpa perhatian Alloh. Seorang mu’min benar-benar merasa bahwa dirinya sangat tidak pantas memasuki surga-Nya. Dirinya merasa bahwa ia adalah hamba yang paling banyak dosanya sehingga tidak perlu melihat orang lain dan menggunjing kejahatan yang mereka lakukan. Yang bisa ia lakukan hanyalah berjuang keras beramal dan terus beramal seraya menjauhkan diri dari menzalimi manusia dan kemaksiatan sesuai al-Quran dan Sunnah dengan ikhlas untuk bekalan dirinya demi hari esok yang lebih baik, ketika ia bertemu dengan Alloh. Yang bisa ia lakukan hanyalah berdakwah dan terus berdakwah sesuai al-Quran dan Sunnah dengan ikhlas mengajak orang lain berbuat baik dan meninggalkan maksiat dan kezaliman. Semua itu dengan menengadahkan kedua belah tangannya yang hina agar Dia berkenan melirik sedikit saja dari amal solehnya yang telah Dia mudahkan dan menganggapnya sudah cukup untuk memasukkannya ke dalam surga.

sumber: http://fsqalhafidz.org

Copyright 2011. All Rights Reserved.
Joomla theme by hostgator coupon