| Wudhu |
|
|
|
| Written by admin |
| Sunday, 06 December 2009 14:16 |
|
Ketahuilah, berwudhu termasuk faktor kunci dalam kekhusyukan shalat. Allah SWT Maha Memperhatikan siapa pun yang berwudhu. Walaupun tampak hanya membasuh sebagian tubuh bagian luar dengan air atau kadang hanya bertayamum dengan debu, namun makna penting dari semua itu adalah wudhu harus menjadi bagian pembersih jiwa karena memang di antara hikmah lain dari wudhu adalah menggugurkan dosa-dosa kecil. Oleh karena itu, iringi tetesan air yang jatuh dengan istighfar di hati, insya Allah saat berwudhu sudah menjadi saat yang menentramkan jiwa. Dampaknya, wudhu yang baik akan membuat mental kita menjadi lebih siap untuk bersujud kepada Allah. Di tengah para sahabatnya, Nabi SAW bertanya, “Maukah aku beritahukan kepada kalian sesuatu yang karenanya Allah menghapuskan dosa-dosa dan meninggikan derajat? Yaitu membaguskan wudhu ketika malas mengerjakannya, melangkahkan kaki ke masjid, dan menanti waktu shalat setelah shalat,” Beliau berwudhu satu kali-satu kali, lalu bersabda, “Inilah wudhu yang dengannya Allah menerima shalat.” Beliau berwudhu dua kali-dua kali, lalu bersabda, “Barangsiapa yang berwudhu dua kali-dua kali, Allah memberikan pahalanya dua kali.” Kemudian beliau berwudhu tiga kali-tiga kali, lalu bersabda, “Inilah cara wudhuku, wudhu para nabi sebelumku, dan wudhu kekasih Ar-Rahman, Ibrahim as.” Beliau juga pernah bersabda bahwa apabila hamba muslim berwudhu lalu berkumur, lalu keluarlah dosa-dosa dari mulutnya. Apabila dia menghirupkan air ke hidung dan mengeluarkannya lagi, keluarlah dosa-dosa dari hidungnya. Apabila dia membasuh wajahnya, keluarlah dosa-dosa dari wajahnya hingga yang ada di bawah kelopak matanya. Apabila dia membasuh kedua tangannya, keluarlah dosa-dosa dari kedua tangannya. Apabila dia mengusap kepala, keluarlah dosa-dosa dari kepalanya hingga yang ada di bawah telinganya. Apabila dia membasuh kedua kakinya, keluarlah dosa-dosa dari kedua kakinya hingga yang ada di bawah kuku jari-jari kakinya. Kemudian, langkahnya menuju masjid dan shalatnya merupakan ibadah sunnah baginya. Diriwayatkan bahwa Umar bin al-Khaththab ra. mengutus salah seorang sahabat Rasulullah SAW ke Mesir untuk mengambil tirai Ka’bah. Lalu, orang itu singgah di salah satu wilayah Syam tempat berdiri pertapaan seorang rahib. Tidak ada rahib lain yang lebih alim darinya. Utusan Umar ini ingin menemuinya dan mengetahui ilmunya. Lalu dia mendatanginya dan membuka pintu rumahnya. Akan tetapi, pintu itu tidak dapat terbuka lebar. Kemudian utusan itu menemui rahib, lalu bertanya untuk mendengarkan dan mengagumi ilmunya. Dia pun mengadukan kepadanya tentang dirinya yang tertahan di pintu rumah tersebut. Rahib itu menjawab, “Ketika kami melihatmu, ketika engkau datang kepada kami dalam keadaan takut kepada penguasa, kami takut kepadamu. Kami menahanmu di pintu semata-mata karena Allah SWT berfirman kepada Musa as., ‘Wahai Musa, apabila kamu takut kepada penguasa, berwudhulah, dan perintahkan keluargamu berwudhu. Sebab, barangsiapa yang berwudhu, dia berada dalam perlindungan-Ku dari apa yang kamu takutkan.’ Kami mengunci pintu itu bagimu hingga enkau berwudhu dan berwudhu pula semua orang yang berada di dalam rumah, serta kami melaksanakan shalat. Karenanya, kami merasa tenteram terhadapmu, kemudian membukakan pintu itu untukmu.” Dari: Pembuka Pintu Hati (Makasyafah al-Qulub: al-Muqarrib ila Hadhrah ‘Allam al-Ghuyub fi ‘Ilm al-Tashawwuf). Bandung: MQ Publishing, 2004. sumber: http://hikmah32.wordpress.com/2009/10/11/wudhu/ |




Oleh: Imam al-Ghazali


