|
Selama sembilan hari saya mendapatkan kesempatan mengikuti training ‘Hiwar ma’a Nashara’ yang berarti dialog dengan Nasrani. Dari pelatihan ini saya lebih mengenal dan lebih memahami ajaran Nasrani yang kini dianut lebih dari 2 miliyar penduduk dunia. Ketika berbicara tentang sebuah ajaran pastilah tidak jauh dari kitab suci (al-Kitab al-Muqaddas). Kitab suci merupakan sebuah ajaran yang menjadikan pemeluk yang taat dan ia pun menjadi sumber kekuatan dan keyakinan seseorang. Terdapat dua kitab suci yang mereka yakini sekarang yaitu perjanjian lama (al-ahdu al-qadim), kitab suci ini diimani oleh Yahudi dan Nasrani namun Nasrani tidak mengamalkannya. dan yang kedua adalah perjanjian baru (al-Ahdu al-Jadid).
Jika ditelusuri dalam al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah Swt menurunkan taurat kepada Nabi Musa as dan sungguh taurat tersebut merupakan kitab petunjuk dan cahaya bagi bani Israil. Allah berfirman : “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah”. (Qs. 04:44). Begitu pula dengan kitab Injil “Dia menurunkan menurunkan Taurat dan Injil sebelum (Al Quran) menjadi petunjuk bagi manusia”, (Qs.3:3-4). Bahkan Al-Qur’an pun memerintahkan untuk mengimani para Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. (Qs.2:136).
Al-Qur’an menyebutkan bahwa ahli kitablah yang mendapat amanah untuk menjaga kitab Allah ini (Qs. 5:44) namun dalam celakanya bani Israil tidak menjaga amanah ini sebagaimana mestinya bahkan mereka melakukan perubahan (tahrif) di dalamnya sebagaimana firman Allah: “mereka suka merubah Perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya..” (Qs.5:13). dan“Maka celakalah bagi orang-orang yang menulis Al Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; "Ini dari Allah", untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan. (Qs.2:79). Selanjutnya Allah berfirman dalam ayat lain: “Sesungguhnya diantara mereka ada segolongan yang memutar-mutar lidahnya membaca Al Kitab, supaya kamu menyangka yang dibacanya itu sebagian dari Al Kitab, padahal ia bukan dari Al Kitab dan mereka mengatakan: "Ia dari sisi Allah", padahal ia bukan dari sisi Allah. Mereka berkata dusta terhadap Allah sedang mereka mengetahui. (Qs.3:78). Andaisaja Allah Swt berkehendak untuk menjaga taurat, pastilah Allah melakukannya. Namun dalam ayat di atas, Allah Swt meminta kepada Bani Israil untuk menjaganya, Walhasil mereka justru mangkir bahkan mentahrifnya. Demikian pula yang terjadi dengan para Nabi dan Rasul yang diutus Allah banyak yang mati dibunuh oleh Bani Israil, jika Allah berkehendak pastilah Allah Swt akan menjaganya. sebaliknya, berbeda dengan kitab Al-Qur’an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw penutup para nabi, Allah menjaga dan menjaminnya sampai hari kiamat. Firman Allah:”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Qs.15:9).
Perlu diketahui bahwa dua kitab suci Nasrani mereka sebagaimana disebutkan di atas adalah perjanjian lama (al-ahdu al-qadim) dan perjanjian baru (al-ahdu jadid). Adapun perjanjian lama ini terdiri dari 46 kitab (sifr) terhimpun di dalamnya. Pertama, Asfar Khamsah (lima kitab) yang dinisbahkan kepada Nabi Musa as –kaum muslimin menyebutnya taurat-. Kedua, Asfar Tarikhiyyah (Kitab Sejarah). Ketiga, Asfar Syi’r wa al-hikmah (Kitab Syair dan Hikmah), keempat, Asfar Nabawiyyah (Kitab Kenabian), dan kelima, Asfar Abu Karafa (Kitab Abu Karafa). Dari kitab yang disebutkan ini Nasrani Protestan mengimani perjanjian lama sebanyak 39 kitab (sifr) saja dari 46 sifr di atas kecualisifr Abu Karafa. Selanjutnya kitab suci mereka yang kedua adalah perjanjian baru (al-ahdu al-jadid). Ia merupakan kumpulan kitab injil yang terdiri dari empat injil dan beberapa risalah yang dinisbahkan kepada delapan penulis dari generasi pertama dan kedua kaum Nasrani. Mereka adalah Matta, Markus, Lukas (luqa), Yohanes (Yuhanna) dan Paus yang memiliki empat belas risalah serta tiga penulis lainnya yaitu Buthrus, Ya’kub, Yahudza. Menurut mereka delapan penulis itu sebagiannya adalah murid dari Nabi Isa as (Matta, Yuhanes, Buthrus, Ya’kub dan Yahudza), sementara yang lain setelah al-Masih wafat dan tidak sempat berjumpa dengannya (Paus, Marqus murid Buthrus) dan lainnya menjadi nasrani oleh orang yang tidak berjumpa dengan al-Masih (Lukas murid Paus). Menjadi pertanyaan buat kita –kaum muslimin- kepada kaum nasrani hari ini dari sekian kitab suci mereka di atas, “Ayyu Kitabin Muqaddas” ?, (kitab suci mana yang anda maksudkan). Perjanjian lama dengan 46 sifr atau 36 sifr. Atau selain itu, perjanjian baru yang ditulis oleh 8 penulis injil. Antara lain Injil Matta, Injil Markus, Injil Lukas atau Risalah Paus. Kenapa injil-injil buatan manusia menjadi kitab suci (al-Kitab al-Muqaddas) dan apakah benar perjanjian lama dan perjanjian baru itu kalam Allah ? Untuk menjawab ini pertanyaan di atas perlu penjelasan lebih lanjut mengenai isi dua kitab suci ini secara lebih detail dan anda bisa merujuk kepada buku antara lain buku ‘Hal al-ahdu al-qadim kalimatullah’? ‘Hal al-ahdu al-jadid kalimatullah? Karya DR. Munqidz Mahmud al-Saqqar(ada edisi Ingrris dan Perancis)). Kedua buku ini dapat anda bisa download, http://www.saaid.net/Doat/mongiz/index.htm dan sebagian dialognya dimuat di youtube. Cari dengan tulisan arab منقذ السقار, lihat http://www.youtube.com/watch?v=XMHfwmbrnUM. semoga bermanfaat.
Akhirnya, tulisan di atas ini hanya muqaddimah saja karena pentingnya berbagi ilmu dari sebagian kecil pelatihan yang saya ikuti secara langsung dari Syeikh Munqidz al-Saqqar dan tentunya harapan Syeikh Munqidz dan kita semua untuk berdakwah dan mengajak saudara-saudara kita kaum Nasrani di tanah air maupun di belahan dunia lainnya mengenai ajaran yang akan menyelamatkan mereka dan kita di dunia dan akhirat yakni al-Islam dengan berdialogbi al-mujadalah bi al-lati hiya ahsan.. Wallahu a’lam bishawab.
Akhukum Fahmi Rusydi M. Toha
|