| Tahun Baru Islam 1431 H di Mekkah |
|
|
|
| Sunday, 27 December 2009 13:19 |
|
Pemandangan di atas tentunya sangat berbeda di tanah air, gema muharram menjadi isu sentral di mana-mana khususnya sepuluh tahun belakangan ini dan tidak sedikit yang melakukan tabligh, ceramah dan zikir nasional serta serangkaian kegiatan lainnya. Bahkan 1 Muharram dijadikan sebagai hari libur nasional. Seorang kawan mengajak untuk ikut meramaikan gema muharram di Mekkah, ia mengajak untuk mabit dan I’tikaf di Masjid al-Haram dengan penuh semangat. Tapi niat baik malam itu urung dilakukan karena kawan-kawan mahasiswa kelelahan karena sore tadi main sepak bola antar benua sampai menjelang magrib ditambah paginya JJP (Jalan-Jalan Pagi) berkilo-kilo melakukan napak tilas sirah dan hijrah Nabi Saw (Kamis dan Jumat weekend di Saudi). Walhasil, aktivitas malam Muharram malam itu dilakukan dengan ajang masak bersama. Kali ini semua ikut andil berperan dan mendapat tugas masing-masing. Semua kawan-kawan berharap dalam mengisi tahun baru Islam ke depan nantinya dilakukan dengan penuh ukhuwah, kompak dan menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Amiin. Akhirnya, keesokan harinya kita berangkat shalat Jum’at di Masjidil Haram secara bersama-sama, Selanjutnya, saya ingin mengajak pembaca untuk mengetahui aktivitas di Masjidil Haram di mana banyak sekali keutamaan Masjidil Haram (baca tulisan: Lebih dekat dengan Mekkah). Kebajikan yang dilakukan di tanah haram akan dilipatgandakan Allah dan sebaliknya kejahatan yang dilakukan di dalamnya pun akan dilipatgandakan. Karenanya, begitu banyak orang yang memiliki impian untuk segera menyeru panggilan Allah di tanah haram ini terutama di Masjidil Haram dan untuk meraih kebajikan di dalamnya. “Demikianlah . Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah , maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati”. (Qs.22:32). “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidi al-haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih. (Qs.22:35). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Umar bin Khattab memahami ‘melakukan kejahatan di tanah haram (ilhâd)’, “Andaikan aku memiliki tujuh puluh kesalahan di Rakbah -sebelah timur Mekkah, tanah halal- itu lebih aku cintai daripada aku melakukan satu kesalahan di Mekkah” Selain itu, Masjidil Haram dipenuhi dengan halaqah-halaqah majelis ilmu. Saya sedikit akan mengulas mengenai halaqah majelis ilmu di Masjidil Haram yang cukup tua usianya. Dengan majelis ilmu inilah banyak melahirkan para ulama di seantero dunia dan bahkan di tanah air. Tempat inilah para ulama dahulu dari tanah air mencari ilmu dengan para masyayikh (guru-guru) haram dan inilah menjadi salah satu jaringan keilmuan antara ulama timur tengah dengan murid-murid melayu – Indonesia. (Baca: Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara abad 17-18). Dalam halaqah majelis ilmu ini terdiri dari tiga belas halaqah yang berada dalam serambi dan pintu masuk ka’bah dipandu dan dibimbing oleh masyayikh dilakukan hampir setiap hari ba’da magrib dan ba’da ashar. Kajian mereka pun beragam materi, yaitu Fiqh, Ushul Fiqh, Hadits, Ulumul Hadits, Tafsir, Tauhid, Faraidh dan Sirah. Syeikh Abdul Rahman bin Abdullah bin Ajlan yang memiliki halaqah setiap hari ba’da shalat maghrib dan termasuk yang paling banyak muridnya. Ia pun tercatat sebagai Mufti Masjidil Haram. Uniknya, dari sekian Syeikh terdapat Syeikh Muhammad bin Abdul Qadir Mandailing dari Indonesia yang bermukim di Saudi cukup lama, ia mengajar dengan pengantar bahasa Indonesia kajian fiqh (Fathul Mu’in) dan Hadits Riyadhus Shalihin ba’da shalat maghrib di Jalan Masuk Ummu Hani Masjidil Haram. Masjidil Haram juga memiliki Ma’had dan dikenal dengan Ma’had al-Haram, program ini setiap pagi hari setingkat sekolah SMP dan SMU. Tidak saja orang-orang Saudi yang belajar di sini bahkan banyak peserta didiknya dari Indonesia. Biasanya orang tua di tanah air menitipkan anaknya untuk belajar di Masjidil Haram ini tak lain adalah di Ma’had al-Haram, tempatnya di lantai 1 pintu Fahd Masjidil Haram dan Ma’had ini biasanya juga menjadi jembatan melanjutkan studi nantinya di kampus Ummul Qura, Mekkah atau kampus lainnya di Saudi. Adapun di lantai dua bab Fahd Masjidil Haram terdapat halaqah Tahfizh yang dibimbing oleh lebih dari 20masyayikh. Mereka setiap harinya (kecuali hari libur) datang untuk menerima setoran peserta dari berbagai usia mulai ba’da ashar sampai isya. Adapun yang ingin mendapatkan sanad al-Qur’an, ia mesti ikut program hafal al-Qur’an 30 juz kemudian dilakukan imtihân (ujian) dan selanjutnya apabila ia lulus maka akan mendapatkan sanad dari syeikh. Dan mungkin masih ada lagi kegiatan di Masjidil Haram yang belum terhimpun dalam tulisan ini. Demikian aktivitas yang cukup padat di Masjdil Haram, tidak saja banyak meraih pahala dan kebajikan di dalamnya dan lebih dari itu kita mendapatkan banyak ilmu dengan berkahnya Masjidil Haram. Banyak orang yang saya temui dari para hujjaj Indonesia musim haji kemarin, apabila mereka sudah berada di Masjidil Haram tidak mau terburu-buru untuk pulang ke Maktab dan ingin rasanya berlama-lama di baitullah, terasa begitu dekat dengan sang Pencipta. Karenanya kita menjumpai tidak sedikit para hujjaj meneteskan air mata saat mereka ingin berpisah dari baitullah Ka’bah. Tentunya jika anda dan keluarga memiliki kesempatan untuk ke baitullah lagi (semoga), apalagi waktu yang cukup lama maka anda tidak perlu sungkan untuk mengambil kesempatan emas untuk bergabung dengan majelis ilmu tersebut karena majelis didirikan untuk melayani dan mengajarkan umat memahami Islam secara sempurna. Akhukum Fahmi Rusydi M. Toha |

Berita 






