| Hijrah Refleksi Perubahan Menuju Peradaban Islam |
|
|
|
| Thursday, 17 December 2009 10:51 |
|
Mari kita mencoba menarik sedikit sejarah Rasulullah Saw hijrah dari Mekkah ke Madinah. Rasul Saw berhijrah ke Madinah demi kemaslahatan dakwah karena beliau dan shahabatnya tidak mendapat tempat yang kondusif untuk berdakwah lagi di Mekkah. Begitu juga di Habasyah kelihatannya tidak cocok dijadikan sebagai basis dakwah. Karena itu, Rasul Saw memilih Yatsrib sebagai kota hijrah ke Madinah. Ghadban (1995) menyebutkan bahwa hijrah Rasulullah Saw adalah sebaik-baik perencanaan manusia ‘al-Takhtîth al-Basyariy’ saat itu. Rasul Saw benar-benar sebagai leader karena beliau mengelola hijrah bukan dengan ‘bim salabim’ alias serampangan J. Tentunya ini sangat menarik bagi kita umatnya untuk mengambil benang merah kehidupan yang kemudian dapat bingkai melalui sirah Nabawiyah ini. Setidaknya ada delapan belas perencanaan yang dilakukan Rasululullah Saw untuk kesuksesan perjalanan hijrahnya yang dapat kami ambil intisarinya. Pertama, Rasul Saw menyiapkan pembekalan yang cukup, Kedua, membeli dua ekor unta empat bulan sebelumnya, Ketiga, berangkat dengan di waktu siang sehingga tidak seorang pun yang melihatnya, Keempat, berangkat dengan tidak tergesa-gesa sambil menutupi wajahnya supaya tak terlihat. Kelima, memerintahkan semua untuk mengosongkan rumah guna menjaga rahasia. Keenam, menyiapkan perbekalan yang dibawa nantinya oleh Asma, Ketujuh, Keluar hijrah dari pintu rumah Abu Bakar, Kedelapan, Membagi tugas secara rahasia, mereka adalah Aisyah, Asma, Ummu Ruman, Abdullah bin Abi Bakar, dan Ali bin Abi Thalib. Selanjutnya Kesembilan, Bermalam di Goa Tsur selama tiga hari hingga keadaan Mekkah stabil. Kesepuluh, Menugaskan Abdullah bin Abi Bakar sebagai informan. Kesebelas, Menugaskan Amir bin Fahirah mengapus jejak Abdullah bin Abi Bakar dengan gembalaan kambing. Kedua belas, Amir ini juga ditugaskan membawa perbekalan tambahan, yaitu sembelihan kambing dan susu. Ketigabelas, Rasul Saw tidak bermalam di rumahnya. Keempat belas, Menugaskan Ali bin Abi Thalib bermalam dan tidur di kasur Rasul Saw. Kelima belas, Mengambil penunjuk jalan yang menguasai medan yaitu Ibnu Uraiqith. Keenam belas, Mengambil jalan yang bukan biasanya, Ketujuh belas, Mencari pendamping yang mengerti jalan yaitu Abu Bakar (ia seorang dikenal seorang pedagang dengan pengalaman lapangan) dan kedelapan belas, Strategi Asma dengan harta. Asma khawatir kakeknya Abu Kuhafah yang tidak melihat (belum masuk Islam) dan demi menenangkan hatinya, ia letakkan sebongkah batu dalam bungkusan baju Subhanallah, begitulah delapan belas perencanaan yang dicatat oleh Munir Muhammad Ghadban dalam buku fiqh Sirah Nabawiyyah, di mana kita bisa mengambil pelajaran dalam peristiwa besar ini. Hendaknya dalam melakukan aktifitas semestinya memiliki road map yang jelas sebagaimana pelajaran hijrah Rasul Saw singkat di atas. Selain itu, Rasul Saw mengambil SDM yang terampil dan tepat baik dari elemen pemuda dan wanita, dan tentunya Rasul Saw memiliki visi besar yakni untuk menjadikan kota Yatsrib sebagai Madinah menjadi basis dakwah yang baru dan akan mengantarkan nantinya pusat peradaban Islam. Dari peristiwa hijrah inilah, para shahabat Rasul Saw pada tahun 16 H di zaman Umar bin Khattab sepakat menjadikan titik tolak peristiwa hijrah sebagai awal tahun baru Islam. Dengan demikian, jadikan hijrah sebagai momentum kebangkitan diri menjadi insan shaleh lagi bermanfaat. Hijrah sebagai refleksi perubahan menuju peradaban Islam. “Met tahun baru 1431 H, pena itu akan melukis kehidupan baru anda yang baru”. |

Berita 


Hampir setiap tahun di tanah air momentum Hijrah Rasulullah Saw dilakukan berbagai event untuk mengenang dan menapak tilas perjalanan sirah Nabi Muhammad Saw. Berbagai perayaan dilakukan mulai tabligh akbar, perlombaan, konser nasyid, bazaar, parade Muharram dan lain sebagainya. tahun baru Islam selama ini tidak dilakukan sebagaimana lazimnya tahun baru masehi tetapi dilakukan dengan spirit nilai-nilai keislaman. Hijrah Rasulullah Saw ke Madinah menjadi momentum bersejarah bagi umat Islam yang kemudian dijadikan sebagai awal tahun baru dalam Islam.


