| HIJRAH |
|
|
|
| Sunday, 27 December 2009 13:00 |
|
Buatlah sebuah lingkaran pada selembar kertas, kemudian buatlah satu buah titik. Anda bebas menentukan letak titik itu. Bisa di dalam lingkaran. Bisa di luar. Bisa juga di dahi anda! Ada seekor kambing. Hidup enak di dalam kandang tertutup. Ia terlindung dari gangguan binatang buas. Setiap hari, pakan dan minum dipasok ke dalam kandang. Kalau sakit, dokter hewan datang dan mengobati. Jika kandangnya rusak, segera diperbaiki. Pendeknya, kambing bisa hidup nyaman di dalam kandang. Pertanyaannya, maukah anda hidup seperti kambing? Setelah menjalani karir sebagai pembicara publik lebih dari lima tahun, mengajukan pertanyaan yang sama kepada jutaan audience, saya sangat yakin bahwa tidak ada satupun manusia waras yang menjawab pertanyaan itu dengan jawaban ‘mau’. Tidak ada orang waras yang secara sadar dan sukarela, ingin hidupnya diatur atau dibatasi orang lain. Jika boleh memilih secara bebas, mereka semua pasti memilih hidup bebas menurut keinginannya sendiri. Itulah keinginan setiap orang. Tidak ada seorangpun yang boleh melarang, karena itu adalah hak asasi setiap orang. Tapi, mari kita kembali melihat gambar lingkaran dan titik yang sudah anda buat di awal. Dimana anda meletakkan gambar titik anda? Di dalam lingkaran? Ya. 97 persen audience yang pernah saya minta untuk melakukan hal itu, menempatkan titiknya di dalam lingkaran. Jadi nggak usah malu atau takut. Anda adalah bagian mayoritas dari umat manusia yang secara sadar tidak ingin dikandangkan seperti kambing, tetapi secara tidak sadar memilih jadi kambing yang betah hidup aman sentosa di dalam kandang. Hanya sedikit (tidak lebih dari 3 persen) yang menempatkan titiknya di luar garis lingkaran. Hanya ada satu orang yang demikian kurang ajarnya, sehingga ia meminta izin untuk menempatkan titiknya di dahi saya! Siapa 10 orang paling sukses di Jakarta? Siapapun nama orang yang anda sebut, bisa jadi tidak ada satupun dari nama itu, yang asli orang betawi. Siapa 10 orang terkaya di Indonesia? Bisa jadi, tidak ada satupun dari nama itu yang orang Indonesia asli. Mengapa? Sangat sedikit orang yang bersedia secara sadar keluar dari lingkaran kehidupan, yang sudah sekian lama dijalani dengan nyaman. Sama sedikitnya dengan prosentase orang-orang sukses. Itu sebabnya, salah satu faktor kunci penentu kesuksesan seseorang adalah keberaniannya meninggalkan lingkungan, dan atau perilakunya yang buruk. Bahasa agamanya, berhijrah. So, mohon maaf. Jangan memilih jalan hidup aman sentosa seperti kambing! Kalau mau sukses, berhijrahlah. Tinggalkan lingkungan nyaman anda. Tinggalkan perilaku buruk anda. Tentu saja ada proses yang membuat anda sakit, tapi suatu saat anda akan beroleh kenyamanan yang lebih. |







